Menangani Anak Autis

Anak autis adalah anak yang memiliki gangguan komunikasi, interaksi sosial, pola bermain, gangguan indrawi maupun perilaku emosi yang berbeda dibanding anak normal. Ciri anak yang mengidap autis bisa dilihat saat anak berusia 3 tahun.

Dahulu ada paradigma yang menyatakan bahwa anak autis tidak bisa disembuhkan. Namun sekarang, dirasa ada kemungkinan untuk meningkatkan tingkat kesembuhan anak autis lebih cepat apabila gangguan ini diketahui sejak dini.

Hal ini terbukti bahwa di luar negeri sudah ada anak autis  yang mampu menyandang gelar doktoral. Lalu, bagaimana menangani anak autis yang cenderung memiliki gangguan dalam komunikasinya?

Berikut akan kita pelajari bersama bagaimana model komunikasi yang tepat untuk anak autis. Dijelaskan dalam Jurnal ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik, vol 1 (1) tahun 2010, bahwa ciri anak autis ada gangguan-gangguan berkomunikasi yang menjadi sebab adanya hambatan interaksi penderita dengan lingkungannya, sehingga terapi komunikasi menjadi sangat penting bagi penderita autis.

Salah satu metode yang direkomendasikan dalam jurnal ini adalah metode LOVAAS yang diharapkan dapat menunjang penyembuhan penderita autis.

Beberpa Hal yang Perlu Bunda Tahu Tentang Metode LOVAAS ;

  • Berat Ringannya Derajat Kelainan

Jika derajat kelainan semkain berat, maka anak akan sulit untuk kembali normal. Meskipun derajat anak autis itu ringan, namun perlu diingat bahwa anak autis juga membutuhkan terapi. Anak yang menderita autis meskipun ringan tidak akan bisa sembuh jika hanya ditangani secara tradisional saja.

  • Usia Anak

Anak yang menjalani terapi harus dilakukan sejak usia dini yang dilakukan secara teratur. Idealnya anak akan menjalani terapi pada usia 2 hingga 3 tahun. Meskipun demikian, bukan berarti anak yang usianya di atas 3 tahun sudah tidak bisa melakukan terapi lagi. Anak yang sudah melampaui usia 5 tahun pun harus tetap melakukan terapi sekalipun penyembuhannya tidak secepat usia ideal. Keterampilan minimal yang bisa dilakukan adalah mengajarkan keterampilan atau okupasi yang dapat mengajarkan anak untuk hidup mandiri.

  • Intensitas Penanganannya

Metode LOVAAS menetapkan terapi 40 jam perminggu. Syarat ini biasanya cukup dianggap berat oleh para orangtua. Jika terapi ini dilakukan di sekolah, maka orangtua biasanya akan terbentur pada masalah biaya yang besar. Dan apabila dilalukan di rumah sendiri maka orang tua tidak memiliki wkatu yang cukup, karena harus bekerja mencari nafkah.

  • Dalam Hal IQ

Semakin cerdas seorang anak, maka ia akan makin cepat menangkap materi yang diberikan. Bukan hanya kecerdasan IQ saja yang dilatih, melainkan kecerdasan emosional. Hal ini karena banyak anak autis yang sulit mengendalikan emosinya.

  • Keutuhan Pusat Bahasa di Otak Anak

Tahukah Bunda, bahwa letak pusat bahasa anak ada di lobus parietalis kiri? Anak yang mengalami kerusakan atau kelainan pada bagian ini, maka anak akan mengalami kesulitan untuk berkata-kata layaknya anak normal.

Bagi anak ini, maka latihan PECS (Picture Exchange Communication System) dan Compic (Computerized Pictograph) atau sering juga disebut bahasa gambar dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan anak ini.

Selain gambar, bisa juga dilakukan dengan bahasa isyarat dan bahasa tulisan ataupun ketikan melalui mesin ketik.

Jadi, bagi Bunda yang memiliki anak autis, disarankan oleh para peneliti untuk melakukan diagnosis anak sedini mungkin untuk membantu penyembuhannya yakni speech therapySpeech therapy untuk anak autis  yaitu dengan menggunakan metode LOVAAS (Applied Behavior Analysis). Metode ini memiliki sistematika 40 jam perminggu, maka perkembangannya bisa dilihat secara terukur. Metode ini bisa pula disertai stimulus berupa pemberian hadiah untuk anak yang mau menuruti perintah terapis, dan bisa juga dengan memberikan hukuman bila anak tidak menurut.

Ciri Anak Autis

Sebelum bunda mengetahui anak bunda autis atau tidak, bunda harus mengetahui ciri ciri dari anak pengidap autis terlebih dahulu. Berikut beberapa ciri anak autis:

  • Mempunyai perilaku yang khas dari anak lainnya

Perilaku khas yang diderita oleh anak autis seperti anak cepat marah dengan suara tertentu, memiliki keterbatasan dalam minat dan sulit mengubah satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Contohnya seperti anak hanya membicarakan satu topik atau anak hanya menatap mainan yang tertentu.

  • Anak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi

Anak yang mengalami penyakit autis biasanya cenderung kesulitan dalam hal berkomunikasi dengan orang lain, seperti memahami pembicaraan, berbicara sampai dengan membaca dan juga menulis.

Bukan hanya itu saja anak juga mengalami masalah dalam komunikasi jenis lainnya seperti anak kesulitan untuk memulai percakapan, anak susah memahami perkataan dan anak susah mengikuti petunjuk yang ada.

Anak yang mengalami masalah autisme umumnya akan memiliki masalah dalam menggunakan dan memahami bahasa tubuh seperti melambaikan tangan, menunjuk serta kesusahan dalam memperlihatkan suatu objek kepada orang lain.

Ciri anak autis yang paling terjadi ialah anak mengulang ulang kata yang sering dia dengar atau yang baru dia dengar. Anak juga sering mengatakan sesuatu namun dalam keadaan seperti lagu dan anak melakukan tantrum untuk tujuan dalam mengungkapkan keinginannya.

  • Anak mengalami gangguan dalam berhubungan sosial

Ciri dari anak autis lainnya seperti anak yang asyik dengan dunia nya sendiri sehingga membuat anak menjadi sulit untuk berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya.

Anak autis biasanya juga sulit untuk melakukan kontak mata terhadap lawan bicaranya, mereka juga kesulitan dalam memahami rasa sakit, rasa sedih dan sulit memahami perasaan orang lain.

Maka dari itu, banyak anak autis yang pada umum nya tidak mudah memiliki teman, tidak mudah bermain bahkan susah dalam berbagi mainan kepada temannya karena mereka akan asyik dengan dunia nya sendiri.

Selain ciri ciri anak autis yang sudah dijelaskan ini, anak autis juga masih memiliki ciri lainnya seperti mereka suka mengibaskan tangan mereka, memutar mutar badan mereka, suka menyimpan batu dan sering kali menatap dengan pandangan mata yang kosong.

Berkomunikasi Dengan Anak Autis

Dalam berkomunikasi dengan anak autis ini sebaiknya biasakan berbicara dengan kalimat yang singkat dan jelas. Usahakan juga anda berbicara dengan perlahan dan berjeda antara kata agar anak dapat memahami ucapan anda.

Berikan waktu untuk anak memahami kata yang anda ucapkan, bila diperlukan anda bisa menambahkan dengan gerakan tubuh yang sederhana agar anak lebih gampang untuk memahami perkataan anda.

Perlu diingat ya bunda untuk selalu memanggil anak dengan memanggil nama nya serta jagalah atau batasi suara suara yang timbul bila di dekatnya.

Namun perlu diketahui bahwa hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit autisme ini.

Namun sudah banyak cara dalam membantu anak autisme yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial seperti dengan menggunakan metode LOVAAS ini. Sangat penting untuk mengetahui ciri anak autis agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.